November 29, 2013


MUHIBAH SENI LOS ANGELES 2013: A MEMORANDUM OF UNDERSTANDING

Muhibah Seni? Serius?

I do believe that there are a lot of you who’s been wondering; Ngapain sih dosen-dosen sama mahasiswa ISI pada rame-rame ke LA? Bukannya mau ke Miami ya? Apa gunanya buat negara (yang notabene adalah penyandang dana kegiatan lawatan seni tersebut)? Apa gunanya buat kampus?

Well, it was a result of a long time relationship between ISI Yogyakarta and UCLA, especially their performance art department. Also, it was an unexpected thing since awalnya ISI mau ke Miami Deeds, tapi karena satu dan dua hal sehingga persyaratan teknis untuk melakukan lawatan seni ke sana tidak bisa terpenuhi, akhirnya Bu Hermin (as we know, beliau adalah rektor ISI Yogyakarta yang memang memiliki hubungan dekat dengan Judy Mitoma; peneliti dan mantan director of art performance UCLA, just google her) turun tangan dan terjadilah kesepakatan untuk “meresmikan” hubungan kerjasama antara ISI Yogyakarta (jurusan seni rupa) dengan UCLA dalam bentuk penandatanganan MoU.

Memang saya akui, kampus telah bertidak kurang bijaksana dengan tidak melakukan sosialisasi mendalam ke mahasiswa sebelum mengadakan muhibah seni ini sehingga banyak sekali mahasiswa yang menjadi bertanya-tanya tentang tujuan utama diadakannya kegiatan ini. Tapi, setengahnya, saya dapat  memaklumi ini karena setelah terlibat dalam persiapan kegiatan ini, saya mengetahui bahwa baik pihak ISI maupun UCLA memang hanya memiliki waktu tiga bulan mulai dari seleksi sampai keberangkatan, yang tentunya sangat singkat untuk sebuah event bilateral. Pihak ISI sendiri sempat dibuat kalang kabut karena tidak adanya kepastian dari Miami Deeds sementara Dikti sudah menyetujui pendanaan proyek ini (saya tidak terlalu mengetahui detailnya, apa yang saya sampaikan mengenai pendanaan Dikti ini adalah kesimpulan saya sendiri dari percakapan dosen panitia sehingga kebenaran pernyataan saya masih belum valid).

Singkatnya, setelah menjalani serangkaian seleksi berbentuk seleksi berkas dan wawancara dwi-bahasa, terpilihlah 12 mahasiswa nekat bersama 10 dosen dari jurusan DI, DKV, seni murni, kriya, tari, etnomusikologi dan fotografi yang dalam tiga bulan harus siap membawa nama ISI Yogyakarta di publik Amerika dengan didampingi 2 utusan dari DIKTI.

Persiapan

Saya akui, awalnya saya agak skeptis terhadap keberhasilan proyek ini. Bahkan saya pesimis akan benar-benar berangkat karena saya mendengar isu-isu yang mengatakan beberapa program lawatan seni ISI Yogyakarta ke luar negri dibatalkan karena dana yang tidak jadi diturunkan. Namun dengan menjadi panitia muhibah seni itu sendiri, kami telah terikat kontrak dan komitmen untuk terus maju sampai titik penghabisan demi memperjuangkan keberhasilan proyek ini. Masalahnya, dana yang diturunkan pemerintah tidak sedikit dan dalam gambaran di kepala saya saat itu, ini adalah proyek yang benar-benar prestisius sampai saya sempat dibuat stress menghadapi kewajiban menjadi salah satu pembicara di panel discussion yang diselenggarakan di center of art department UCLA. Jadi pembicara di depan dosen-dosen dan mahasiswa UCLA yang notabene lebih superior dibanding ISI Yogyakarta? Kill me now. But it’s another story, i’ll tell you about it in another section.

Persiapan dimulai dengan pemaparan agenda utama muhibah seni, teknis penyelenggaraan kegiatan, kemudian open call untuk submit karya (di beberapa jurusan saja), kurasi, latihan perform (ya, sekitar 15 dosen dan mahasiswa diwajibkan mementaskan sebuah tari bali—damn, i forgot the name—dimana pak i wayan dana menari dan 14 orang lainnya melakukan instrumen vokal sebagai latar belakang), dan tentunya pengepakan karya seni yang terpilih.

Proses kurasi sempat membuat saya sedikit ciut karena karya-karya yang masuk—menurut saya dan beberapa teman mahasiswa—tidak terlalu memuaskan. Menurut saya ini adalah akibat dari kurangnya sosialisasi dan publikasi mengenai kegiatan ini. Karya yang masuk tidak terlalu banyak, padahal saya tahu jelas potensi di ISI Yogyakarta jauh lebih bagus. Namun sekali lagi, saya anggap ini adalah hasil dari singkatnya waktu yang ada untuk melakukan kegiatan. Itu yang saya lihat dari seleksi karya dari FSR dan FSMR. Namun ketika delegasi dari FSP menunjukkan pertunjukan yang akan mereka tampilkan, semangat saya kembali bangkit. They did it really amazingly. Terlepas dari kendala alat dan sumber daya manusia yang sangat terbatas serta beberapa konflik mengenai kedisiplinan dalam rapat-rapat panitia, justru merekalah penarik utama bagi publik Amerika Serikat. Well, I would tell the details in another section, too.

And here we go

Unimportant note: [Should i tell you about the aviation? Lol. The funny thing is, I accidentally ate pork twice and hell it tasted gross I would never ever eat that damned thing anymore. Ini nggak penting sih sebenernya, tapi kalau naik maskapai penerbangan luar negri, you’d better ask for ‘moslem meal’ if you couldn’t eat some certain foods because of your religion, like, seriously. Just in case.]

Begitu mendarat di LAX, rombongan ISI Yogyakarta sudah disambut Bu Judy Mitoma selaku penanggungjawab tuan rumah kegiatan Muhibah Seni ini, dua bapak-bapak perwakilan dari Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) dan beberapa volunteer kegiatan muhibah ini (Dona, Marven, Charles, kalau tidak salah). Lokasi menginap di hari pertama dibagi menjadi tiga, yaitu kediaman bu Judy Mitoma, KJRI dan hotel; KJRI saat itu masih kekurangan kamar sehingga untuk malam pertama, beberapa peserta terpaksa menginap di hotel).

DAY 1

Panitia muhibah terbagi menjadi tiga rombongan. Rombongan pertama mengangkut karya-karya seni dan melakukan fundamental set up untuk display pameran dan rombongan kedua melakukan workshop tari dan topeng. Saya tidak tahu bagaimana kegiatan di persiapan pameran because i belonged to another group.Hari itu, grup saya melakukan tour keliling UCLA (mengingat misi utama muhibah ini adalah penandatangan MoU antara ISI dan UCLA, maka paling tidak UCLA juga perlu mengenalkan diri ke ISI).

UCLA memiliki fasilitas yang sangat lengkap, obviously. Suatu hal yang wajar mengingat biaya kuliah di UCLA yang mencapai angka puluhan ribu dollar per tahun padahal ini bukan kampus swasta(you do the math, guys). Well, saya enggan membandingkannya dengan ISI karena notabene bayaran kuliah kita memang sangat murah and we should be grateful for that lol.

Jam 3 sore seluruh delegasi berkumpul di UCLA untuk melakukan persiapan public lecture. Dan disinilah saya benar-benar disadarkan mengenai pentingnya kemampuan bahasa asing; to save your own dignity, if you know what i mean lol.

Saat itu, ditandatanganilah MoU antara ISI Yogyakarta dan UCLA. Menurut bu Judy Mitoma, UCLA tidak banyak melakukan penandatanganan MoU dengen institusi  pendidikan lain, apalagi di luar negri; which is suatu hal yang membanggakan bagi ISI Yogyakarta karena mendapatkan kesempatan tersebut (fyi, UCLA adalah salah satu dari sepuluh besar universitas terbaik sedunia, courtesy to mbah google). Semoga saja hubungan baik ini tidak berhenti di atas kertas saja, dan ISI Yogyakarta dapat terlibat di lebih banyak hubungan kerjasama dengan UCLA.

Kemudian,delegasi dari FSP menampilkan pertunjukan yang sangat memukau. Damn, they improvised everything so unexpectedly—and awesomely. We were all jaw-dropped. Mereka menyuguhkan sesuatu yang luar biasa untuk publik Amerika, didukung tata panggung dan pencahayaan yang fasilitasnya tidak dimiliki ISI Yogyakarta.Mereka menyuguhkan musik dan tari Kalimantan yang menurut saya, sangat eksotis. Ini bukan pendapat subyektif saya semata, karena setelah public lecture, seluruh peserta berkumpul untuk makan snack di lantai satu dan banyak sekali orang yang bertanya, siapa sih tadi performernya?

Alhasil, delegasi dari FSP langsung diburu banyak audience public lecture. Dan hal tersebut adalah suatu pertanda yang baik untuk proyek ini.

DAY 2

Intinya, dari pagi sampai senja hari, seluruh peserta delegasi dan voluteer melakukan set-up pameran!

It was crazy, like seriously. Set up pameran baru selesai beberapa menit sebelum pameran dibuka. Yang saya sadari di hari itu adalah, masyarakat Amerika benar-benar presisi masalah waktu. Sehingga, para peserta delegasi yang notabene sangat terbiasa dengan budaya molor di Indonesia menjadi sedikit nge-lag. Telat melulu. Tapi dengan kegigihan semua pihak yang membantu display, pameran bisa dibuka tepat pada waktunya.

Hari pertama pameran adalah private exhibition. Yang datang hanya pembeli-pembeli potensial dan orang-orang yang dianggap berpengaruh di LA. Total undangan sekitar 100 orang. Pameran dibuka dengan penampilan tari bali—duh saya lupa judul tariannya, tapi yang jelas pesertanya 15 orang dan saya ikut di sana sebagai ‘cak’, instrumen vokal. Pameran ini merupakan bagian dari event bulanan ‘Downtown Artwalk’. Downtown sendiri merupakan suatu daerah di LA yang terdiri dari puluhan galeri seni yang pada minggu kedua di setiap bulannya melakukan pameran seni secara serentak. Sebenarnya daerah ini dulunya terdiri dari bangunan-bangunan Bank. Bahkan, pameran ISI menempati bekas bangunan  Bank yang bernama Farmers and Merchant’s Bank (tapi sekarang sudah beralih fungsi menjadi galeri seni).

DAY 3

Hari ini, pameran seni ISI dibuka untuk publik. Awalnya memang sepi, saya sampai sempat merasa cemas. Namun, ternyata traffic pengunjung di downtown memang baru mulai padat di atas jam delapan malam. Kemudian delegasi FSP kembali melakukan pentas di tengah galeri yang makin menyedot perhatian publik. Beberapa penonton pameran bahkan ikut menari bersama delegasi dari jurusan tari. Dilaporkan bahwa pengunjung pameran malam itu mendekati angka 3000, and guess what, pameran ISI menjadi salah satu galeri dengan pengunjung terbanyak malam itu. Bahkan, sampai dimuat di koran seni lokal.

Kegiatan pameran berakhir malam itu dan setelah galeri ditutup, delegasi dan volunteer langsung mengepak karya untuk dibawa ke KJRI.

DAY 4

AND IT WAS THE BIG DAY FOR ME; PANEL DISCUSSION.

Sampai detik terakhir, saya masih mengutak-utik file presentasi saya. Rasa insecure menjalar di sekujur tubuh. Dari hari pertama kedatangan di LAX sampai hari keempat ini, saya sama sekali tidak bisa 100% menikmati apapun di LA. Pikiran saya selalu tertuju ke presentasi dan presentasi. Intinya saya cuma takut malu-maluin. Udah, itu aja.

Unexpectedly, ternyata ruangan yang digunakan untuk panel discussion tidak seluas yang saya bayangkan.  Lokasinya ada di Bunch Hall 10383, Art Center, UCLA. Peserta diskusi hanya sekitar 30-an orang. Tidak ada podium atau stage. Hanya  meja berbentuk oval besar dengan peserta diskusi  duduk mengeliling dan ada yang duduk berbaris mengelilingi ruangan tertutup. Setelah sambutan singkat dari seorang profesor dari UCLA, mulailah diskusi bertema ‘READING IDENTITY: INDONESIAN CULTURE’ dengan presentasi singkat dari bu Wiwik selaku project manager dan kajur seni rupa murni, mbak riri dan mas bintang sebagai perwakilan dari seni murni, saya sebagai perwakilan DKV, mas bayu sebagai perwakilan DI, dan mbak tyas sebagai perwakilan kriya. Kemudian, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Saya agak gemes karena kadang pertanyaan dan jawaban antar peserta diskusi nggak nyambung karena kendala bahasa (ngelesnya sih, kan anak seni rupa komunikasinya lewat visual lol). Namun kami saling bantu menerjemahkan, sehingga akhirnya—menurut pendapat bu Judy Mitoma, Etsu, Philip dan beberapa volunteer dari Amerika—kami telah melakukan panel discussion dengan sangat baik dan berhasil menjawab semua pertanyaan dengan baik.

Setelah panel discussion, semua delegasi dibawa ke Fowler Museum, dimana kami dibuat takjub melihat studi-studi yang dilakukan UCLA terhadap kebudayaan-kebudayaan dari berbagai belahan dunia, termasuk kebudayaan Indonesia dan papua nugini. Bahkan seorang profesor bernama Roy Hamilton sudah bertahun-tahun melakukan penelitian terhadap kain tenun Indonesia.

Saat itu saya bagaikan tertampar. Orang-orang asing melakukan penelitian terhadap kebudayaan Indonesia, bahkan melestarikannya. Nah, kita?

Setelah itu rombongan mengunjungi LACMA gallery dimana karya-karya seni dari seluruh dunia mulai dari jaman eropa klasik, karya seni jepang dan korea tradisional sampai seni kontemporer amerika dipajang. Sayang sekali kami hanya memiliki waktu yang sangat singkat. Saya saja hanya mampu mengelilingi dua gedung dari sekian banyak gedung yang masing-masing menyimpan ratusan karya seni. It was really really awesome.

And the fourth day ended.

DAY 5

Leisure time — DISNEYLAND!

The word that really can describe Disneyland is: Magic. Seluruh desain di sini dibuat dengan begitu detail, bahkan sampai ke ornamen-ornamen terkecilnya sehingga mampu membangkitkan suasana fantasy land yang tidak akan pernah bosan dinikmati bahkan oleh orang dewasa sekalipun. Tapi penilaian saya mungkin sangat subyektif mengingat euforia mengunjungi disneyland itu sendiri sudah begitu kuat. Namun Philip mengatakan bahwa banyak orang yang sampai memiliki tiket paket setahun penuh. Jadi saya pikir, bahkan orang Amerika saja ingin mengunjungi tempat ini berkali-kali. So, it must be really awesome.

Yang saya amati dari disneyland adalah kecakapan artsiteknya dalam memadukan unsur teknologi, dekorasi, dan pencahayaan. Banyak sekali ilusi-ilusi optis yang disajikan. User experience yang ditawarkan di sini sangat impressive, terutama untuk orang yang baru pertama kali berkunjung seperti saya.

Nothing much to say, Disneyland is a huge pice of art.

DAY 6

20 menit foto-foto di Hollywood boulevard, berkendara melewati beverly hills, kemudian jam 3 sore sampai jam 6 mengunjungi Getty museum yang merupakan museum pribadi dari seorang kolektor karya seni bernama sama; Getty (semuanya benar-benar tepat waktu!). Yang paling remarkable dari Getty museum adalah arsitektur modernya yang sangat artistik, namun juga memiliki landscape dengan inspirasi taman zen jepang. Karya seni di sana juga tidak kalah lengkapnya dengan LACMA. You can find picasso, monet, rembrandt, cezanne, corot, etc. Koleksi Getty museum bukan hanya karya seni rupa murni namun juga fotografi. Sayangnya saya hanya bisa mengelilingi satu gedung, padahal masih sangat banyak koleksi karya seni di gedung-gedung yang lain.

Hari kelima ditutup dengan farewell dinner di kediaman bu Judy Mitoma. Di sana, seluruh delegasi, volunteer, sampai perwakilan KJRI dan DIKTI menyampaikan kesan-kesan mereka mengenai kegiatan muhibah ini. Satu hal yang sangat saya ingat dari acara sharing ini adalah pernyataan pak Fiki Oktanio, Consul for Information and Socio Cultural Affairs KJRI.

“Mungkin kegiatan kali ini masih belum terasa dampaknya bagi kalian, bagi Indonesia. Namun percayalah, Amerika sangat jarang melakukan ikatan kerjasama seperti ini (penandatanganan MoU), apalagi ini dengan UCLA. Suatu saat nanti, kegiatan kita kali ini akan diketahui sebagai suatu peristiwa yang penting bagi hubungan diplomatik antar Indonesia dan Amerika, terutama di bidang seni.”

Semoga benar adanya. Saya sangat berharap kegiatan muhibah ini dapat memberikan sumbangsih—meskipun hanya segelintir—bagi kelangsungan hubungan diplomatik antara Indonesia dan Amerika.

Sepanjang malam, delegasi dari etnomusikologi (Edo dan Adam), berkolaborasi dengan Philip (mantan staff UCLA, menyelesaikan master degreenya di jurusan musik UCLA), memainkan lagu-lagu keroncong untuk seluruh peserta farewell dinner.

DAY 7

 Actually, agenda kegiatan seni hari ini baru dimulai sekitar jam 6 sore sampai jam 10 malam (belum termasuk persiapan, yang saya tidak tahu berapa lama karena saya tidak terlibat di dalamnya), yaitu workshop batik di New Roads School. Sehingga,  waktu luang dari siang sampai jam 6, digunakan beberapa delegasi yang tidak terlibat workshop batik untuk berbelanja oleh-oleh, dan ada juga yang pergi mengunjungi galeri-galeri seni kontemporer. Para peserta batik workshop mengikuti workshop ini dengan antusias. Uniknya, karena mereka tidak biasa melihat pola-pola batik tradisional, pola-pola yang mereka hasilkan justru menjadi lebih unik. Ada yang memasukkan unsur abstrak, geometris, dekoratif, dan lain-lain. Suatu hal yang unik melihat hasil karya batik dari orang-orang yang sangat jauh dari dunia batik itu sendiri, karena ide-ide yang tertuang dalam karya mereka justru menjadi begitu segar dan berbeda dari biasanya.

DAY 8 – Th Last Day

It was stupid, but we visited some places in about 2 hours just for taking photos. Jadi kalau saya upload banyak foto di banyak tempat, actually saya di sana cuma beberapa belas menit kemudian pindah. Instead of doing it, menurut saya, mendingan diadakan sharing atau diskusi kebudayaan saja. Itu menurut saya sih.

But, well, saya hanya menuruti jadwal yang sudah jauh jauh hari diatur pihak kampus dengan bu Judy Mitoma. Masalahnya untuk transportasi, kami juga harus mengikuti jadwal bu Judy karena menggunakan transportasi umum akan sangat mengurangi efisiensi waktu. I mean, membuat 24 orang tetap berkumpul dengan solid di satu transportasi umum itu sangat susah. Makanya kami memanfaatkan van-van dari bu Judy.

Jam sepuluh pagi, kami sampai di CalArts, sebuah institusi pendidikan seni yang digagas oleh Walt Disney.  Di sana, ada seorang mantan pengajar ISI Yogyakarta bernama pak Wenten yang sudah 20 tahun mengajar di CalArts dan saat ini menduduki posisi sebahai head of world music. Oh ya, ada juga mantan dosen ISI bernama bu Susi yang dulu pernah mengajar juga di UCLA, dan sekarang mengajar di universitas Santa Monica and she helped us most of the time. Well, saya sangat terkesan dengan potensi seniman Indonesia. Very impressive!!

Jam 5.30, seluruh delegasi sampai di rumah Bu Judy untuk makan malam dan pendataan barang-barang di bagasi pesawat. Muhibah seni ISI Yogyakarta di LA berakhir hari itu. Jam 7 malam kami berangkat ke LAX airport, dan jam 10.45 malam, pesawat kami lepas landas menuju Indonesia.

—-

If there is something that i want to share to you, it’s the conversations between American artists and us (delegasi muhibah seni). Publik Amerika sangat mengapresiasi kesenian tradisional dan karya-karya yang memiliki muatan lokal. Buktinya, beberapa universitas di Amerika memiliki ruang tersendiri untuk belajar seni tradisional Indonesia (CalArts memiliki satu set lengkap gamelan bali dan barongnya). Bu Judy Mitoma sendiri merupakan seorang penari Bali profesional, padahal beliau adalah warga negara Amerika. Anaknya, Emiko, menari sejak masih kecil dan saat ini menjadi ketua yayasan pendidikan seni tradisional Bali, di Bali. Menurut beliau, telah banyak seniman Indonesia yang berhasil melakukan pentas seni di Amerika di bawah naungan proyek organisasinya; world festival of sacred music. Bayangkan ada berapa banyak seniman tradisional maupun yang menyematkan unsur lokalitas dalam karyanya yang mampu menembus publik Amerika di bawah naungan yayasan-yayasan dan organisasi yang lain. Oleh karena itu, apa yang dapat saya tangkap dari percakapan-percakapan saya dan teman-teman volunteer di sana adalah, If you want to go International,you’d better go local first. Kelokalan kita adalah unique selling point yang tidak bisa disaingi kebudayaan dari negara manapun, karena kita unik dan berbeda.

Muhibah seni tempo hari mungkin memang belum maksimal, but we did well. Kelemahan yang utama adalah kemampuan bahasa sebagian besar delegasi yang masih kurang dari cukup. Bukan masalah yang besar bagi delegasi dari FSP, namun sangat penting bagi delegasi dari FSR dan FSMR. Kita mempresentasikan dan mendiskusikan ide, bagaimana mungkin hal tersebut bisa terjadi dengan baik apabila kita memiliki kendala bahasa?

Saya berusaha netral dalam menulis ini. Saya tidak menutupi atau memanipulasi apapun dan mengkritisi pencapaian kegiatan ini dengan sewajarnya. Subyektifitas tentunya tidak terhindarkan mengingat ini adalah ‘curhat’ dari sisi pandang saya, apalagi ada beberapa kegiatan yang saya tidak ikut serta. Muhibah seni ini rencananya akan diadakan tiap tahun. Ada wacana untuk kembali mengunjungi Amerika mengingat kita telah menandatangani MoU dengan salah satu universitas ternama di sana. Kerja sama ini juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa ISI untuk melanjutkan studi di Amerika, khususnya UCLA (tentunya bagi mereka yang kompeten, dengan bentuk dukungan berupa surat rekomendasi). Semoga kerjasama ini benar-benar dapat berjalan dengan baik, sehingga dapat mengangkat nama ISI, dan tentunya dengan meningkatnya nama ISI, lulusan ISI di dunia kerja juga dapat menempati posisi yang lebih prestisius.

Om Swastiastu.


See Post

    

September 18, 2013


20

It’s official.

I’m turning 20 today, means, im no longer a teenager.

Rasanya aneh gimana gitu. Usia saya udah kayak mbak-mbak cantik yang dulu saya pandangi dengan kagum waktu saya masih kecil (bedanya, saya bukan mbak-mbak cantik, lol). Now that i remember about it, saya nggak pernah nyangka proses buat jadi ‘mbak-mbak’ itu…ternyata penuh badai ya :3

Di usia saya yang sekarang, saya berhasil berdamai dengan banyak hal dalam diri saya sendiri. Saya berhasil menerima banyak hal yang dulu saya benci mati-matian dari diri saya. Walaupun saat ini saya masih belum bisa menerima diri saya apa adanya, tapi pelan-pelan, satu persatu, aspek-aspek yang tadinya saya benci justru sekarang jadi kekuatan lebih buat saya. Banyak pengalaman dalam beberapa tahun belakangan yang merubah saya secara signifikan. Either it’s a blessing or not, menurut saya sih menerima diri dengan sepenuhnya, bikin kita bisa benar-benar mengenali kekuatan dan kelemahan kita. Alhasil, kita jadi bisa memaksimalkan kelebihan kita untuk meminimalisir kekurangan kita J I learned a lot beberapa tahun belakangan. Saya percaya Tuhan mengatur segala sesuatunya demi kebaikan makhluk ciptaan-Nya, dan semoga akan terus terjadi progresi positif buat saya di masa depan :D

Salah satu hal yang paling saya syukuri saat ini adalah, fakta bahwa teman-teman di sekitar saya saat ini, bukan sekedar teman haha-hihi. Mereka bener-bener care. They accept me just the way i am. Tapi mereka juga bisa marahin saya, habis-habisan, kalau saya salah (which is good, since it’s hard to see your own mistakes, right?). I achieved  a lot, yet i lost a lot, too. Banyak hal nggak terduga terjadi setahun belakangan, yang membuat saya makin bersyukur bisa menjalani kehidupan sampai sejauh ini.

Tapi saya masih sangat sangat egosentris, masih sangat emosional (kompor di otak saya kayaknya kecanggihan gitu, darah saya bisa medidih cuma dalam 3 detik coba), dan—kata mama saya—sangat nggak bisa berempati. Tiga hal di atas mungkin bakal jadi PR saya buat setahun ke depan. Ada banyak hal yang harus diperbaiki dalam diri saya, and i need your helping hands to do it, guys :)

Ah, kepala dua ya. Im no longer a teenager. There’s a sudden emptiness here, somewhere in my chest. Tapi saya yakin, dalam setahun, rongga kosong itu akan terisi lagi, dengan banyak kebahagiaan dan pengalaman. Cheers!

PS. Tadi saya iseng buka tweet-tweet lama saya, setahun lebih belakangan. I changed a lot, i realize. And this is the biggest thing i feel so thankful of. I become a better person, and thank you for always reminding me everytime i do wrong :)

2 notes
See Post

    

July 28, 2013


Engage people with what they expect; it is what they are able to discern and confirms their projections. It settles them into predictable patterns of response, occupying their minds while you wait for the extraordinary moment — that which they cannot anticipate.

Sun Tzu, The Art of War (via bookmania)

656 notes
See Post

     repeat from Book Mania!

July 8, 2013


You have to find the right distance between people. Too close, and they overwhelm you, too far and they abandon you.

Hanif Kureishi  (via rabbitinthemoon)

1,572 notes
See Post

     repeat from rabbit howls

beri dia kebaikan, sampai ia sendiri merasakan betapa jahatnya dia

Gandhi via Mbak Titik via Amal (via orzs)

1 note
See Post

     repeat from rizqie aulia

The capacity to be alone is the capacity to love. It may look paradoxical to you, but it is not. It is an existential truth: only those people who are capable of being alone are capable of love, of sharing, of going into the deepest core of the other person—without possessing the other, without becoming dependent on the other, without reducing the other into a thing, and without becoming addicted to the other.
They allow the other absolute freedom, because they know that if the other leaves, they will be as happy as they are now. Their happiness cannot be taken by the other, because it is not given by the other.

Osho (via armeriasash)

(via orzs)

5 notes
See Post

     repeat from Silent - Listen

mellyna07:

Being a teenager is a stormy period because we don’t know any answers.We don’t know what we really want,who really loves us.Who we really  love…We struggle to find the answer and finally we miraculously find the answer,we already become adults and undergo big and small goodbyes…

Reply 1997,Sung Shiwon,episode 12.

11 notes
See Post

     repeat from life is precious